Mohamad Ansori
Fenomena pemasangan portal diberbagai daerah seringkali menimbulkan pro dan kontra. Warga yang memiliki kepentingan yang "sangat penting" terhadap akses jalan yang ditutup, tentu akan "ngresulo" karena kepentingannya terganggu. Sementara warga lain yang tidak merasa sangat penting terhadap akses itu tidak akan bereaksi dan cenderung berpikir let water flow to the sea. Sementara kelompok warga yang paham akan pentingnya mengurangi akses masuk orang luar di daerah mereka, tentua akan mendukung pemasangan portal seribu persen.
Greneng-greneng, ternyata orang memiliki pemahaman yang berbeda akan alasan pemasangan portal selama lebaran ini. Pertama, mereka berpikir tentang pencegahan penyebaran C19. Kok bisa? Bukankah sang virus bisa saja masuk ke suatu tempat meskipun sudah dipasang portal? Atau bahkan dipasang pintu besi misalnya?
Tentu, pola pikirnya tidak se-naif itu. Mereka beralasan, dengan penutupan akses jalan, orang dari luar lingkungan tertentu, tidak akan mudah masuk ke lingkungan. Sehingga, warga bisa menghalau kedatangan orang dari luar, yang tentunya tidak diketahui riwayat kontak dekat mereka sebelumnya. Apalagi, selama lebaran berbagai kelompok tentu akan datang dengan alasan saudara, teman, kerabat, kolega, dan lain sebagainya.
Sepintas ini tentu masuk akal. Pengurangan kesempatan kontak dekat dengan orang lain dari luar lingkungan sangat realistis jika disebut sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran C19. Namun, sayangnya, ketika portal dipasang, pada saat yang sama lingkungan baik secara terstruktur ataupun tidak, juga akan mengadakan jaga malam. Nah, jaga malamnya ini yang justru merisaukan. Betapa tidak, ketika berjaga, protokol kesehatan sudah tidak dihiraukan lagi. Warga lingkungan abai akan jarak, pemakaian masker, cuci tangan, dan seterusnya.
Jika hal itu terus diabaikan, bisa jadi hal ini yang justru akan menumbuhkan resiko penyebaran. Apalagi, semakin banyak ditemukan kasus orang tanpa gejala (OTG), yang tentunya juga berperan sebagai carier C19.
Kedua, alasan keamanan. Keputusan pemerintah melepaskan puluhan ribu napi dari lapas untuk mencega penyebaran C19, tentu menimbulkkan kecemasan baru di masyarakat. Apalagi, ditengah-tengah masa-masa darurat C19, kasus kriminalitas juga semakin meningkat. Parahnya, kriminalitas itu sebagian juga dilakukan warga binaan yang masih dalam tahap asimilasi dan keluar dari lapas karena alasan darurat C19 itu tadi.
Jika demikian, pemasangan portal dalam rangka keamanan lingkungan ini justru patut diapresiasi. Kita tahu, sejak awal bangsa ini adalah bangsa yang memiliki nilai luhur yang bernama gotong royong, sehingga nuansa gotong royong ini juga harus tetap dijaga agar tetap lestari di masyarakat. Kita tentunya juga masih ingat, dilingkungan-lingkungan kita, ada kegiatan lingkungan yang bernama siskamling (sistem keamanan lingkungan) atau sispamling (sistem pengamanan lingkungan), yang mana, kegiatan itu sudah agak lama kita lupakan.
Jaga portal bersama-sama warga lingkungan, akan lebih elok kalau diteruskan dengan kegiatan siskamling, yang melibatkan seluruh warga laki-laki dewasa. Kaya dan miskin, pejabat atau rakyat, semua bergotong royong untuk bersama-sama menjaga lingkungan secara bergiliran. Tentun harus ada pengaturan jadwal, cara, dan sistem yang baik, yang disepakati bersama. Keamanan adalah faktor utama penentu kenyamanan. Sehingga, pengabaian terhadap keamanan tentu akan mengganggu kenyamanan. Selamat jaga malam!
Fenomena pemasangan portal diberbagai daerah seringkali menimbulkan pro dan kontra. Warga yang memiliki kepentingan yang "sangat penting" terhadap akses jalan yang ditutup, tentu akan "ngresulo" karena kepentingannya terganggu. Sementara warga lain yang tidak merasa sangat penting terhadap akses itu tidak akan bereaksi dan cenderung berpikir let water flow to the sea. Sementara kelompok warga yang paham akan pentingnya mengurangi akses masuk orang luar di daerah mereka, tentua akan mendukung pemasangan portal seribu persen.
Greneng-greneng, ternyata orang memiliki pemahaman yang berbeda akan alasan pemasangan portal selama lebaran ini. Pertama, mereka berpikir tentang pencegahan penyebaran C19. Kok bisa? Bukankah sang virus bisa saja masuk ke suatu tempat meskipun sudah dipasang portal? Atau bahkan dipasang pintu besi misalnya?
Tentu, pola pikirnya tidak se-naif itu. Mereka beralasan, dengan penutupan akses jalan, orang dari luar lingkungan tertentu, tidak akan mudah masuk ke lingkungan. Sehingga, warga bisa menghalau kedatangan orang dari luar, yang tentunya tidak diketahui riwayat kontak dekat mereka sebelumnya. Apalagi, selama lebaran berbagai kelompok tentu akan datang dengan alasan saudara, teman, kerabat, kolega, dan lain sebagainya.
Sepintas ini tentu masuk akal. Pengurangan kesempatan kontak dekat dengan orang lain dari luar lingkungan sangat realistis jika disebut sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran C19. Namun, sayangnya, ketika portal dipasang, pada saat yang sama lingkungan baik secara terstruktur ataupun tidak, juga akan mengadakan jaga malam. Nah, jaga malamnya ini yang justru merisaukan. Betapa tidak, ketika berjaga, protokol kesehatan sudah tidak dihiraukan lagi. Warga lingkungan abai akan jarak, pemakaian masker, cuci tangan, dan seterusnya.
Jika hal itu terus diabaikan, bisa jadi hal ini yang justru akan menumbuhkan resiko penyebaran. Apalagi, semakin banyak ditemukan kasus orang tanpa gejala (OTG), yang tentunya juga berperan sebagai carier C19.
Kedua, alasan keamanan. Keputusan pemerintah melepaskan puluhan ribu napi dari lapas untuk mencega penyebaran C19, tentu menimbulkkan kecemasan baru di masyarakat. Apalagi, ditengah-tengah masa-masa darurat C19, kasus kriminalitas juga semakin meningkat. Parahnya, kriminalitas itu sebagian juga dilakukan warga binaan yang masih dalam tahap asimilasi dan keluar dari lapas karena alasan darurat C19 itu tadi.
Jika demikian, pemasangan portal dalam rangka keamanan lingkungan ini justru patut diapresiasi. Kita tahu, sejak awal bangsa ini adalah bangsa yang memiliki nilai luhur yang bernama gotong royong, sehingga nuansa gotong royong ini juga harus tetap dijaga agar tetap lestari di masyarakat. Kita tentunya juga masih ingat, dilingkungan-lingkungan kita, ada kegiatan lingkungan yang bernama siskamling (sistem keamanan lingkungan) atau sispamling (sistem pengamanan lingkungan), yang mana, kegiatan itu sudah agak lama kita lupakan.
Jaga portal bersama-sama warga lingkungan, akan lebih elok kalau diteruskan dengan kegiatan siskamling, yang melibatkan seluruh warga laki-laki dewasa. Kaya dan miskin, pejabat atau rakyat, semua bergotong royong untuk bersama-sama menjaga lingkungan secara bergiliran. Tentun harus ada pengaturan jadwal, cara, dan sistem yang baik, yang disepakati bersama. Keamanan adalah faktor utama penentu kenyamanan. Sehingga, pengabaian terhadap keamanan tentu akan mengganggu kenyamanan. Selamat jaga malam!

Portal oh portal
ReplyDeleteAdanya portal bukan penghalang utk silaturahmi menggunakan medsos dan media elektronik sbg solusi... Yg penting jangan sampai ada portal di hati kita....
ReplyDeleteMusim virus, musim portal, musim kriminalitas, musim silaturrahim. Ternyata kita hidup di banyak musim.
ReplyDeleteTulisan yg bagus yai...