Mohamad Ansori
Salah satu kompetensi yang dijadikan target pencapaian pendidikan Abad 21 adalah critical thingking. Kemampuan ini sangat diperlukan siswa dalam kehidupannya di masa mendatang. Dalam kehidupan yang dinamis dan selalu berkembang, kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan. Mengapa? Karena dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan distorsi, setiap kita harus bisa memastikan apakah sebuah informasi merupakan kebenaran atau hoax, apakah sebuah kebijakan yang diambil efektif atau tidak, atau apakah penyelesaian suatu masalah sudah tepat sasaran atau belum.
Menurut www.wabisabilearning.com definisi dari berpikir kritis sebagai sebuah pemikiran yang jelas, rasional, logis dan mandiri. Hal itu tentang meningkatkan pemikiran dengan cara menganalisis, menilai dan merekonstruksi. Pada saat menemui persoalan, seseorang yang telah memiliki critical thinking yang baik, tidak akan memutuskan sesuatu dengan gegabah. Ia akan mengumpulkan berbagai informasi dari sumber yang terpercaya dan relevan, membuat analisi, lalu memutuskan sesuatu berdasrkan analis rasioanl tersebut.
Seorang siswa yg memiliki critical thingking yang kuat, memiliki ciri-ciri seperti : memiliki rasa ingin tahu yang kuat, kreatif, tekun dan obyektif. Rasa ingin tahu dan kreatifitas dapat tumbuh dari cara belajar yang aktif dan inovatif. Pembelajaran dengan metode inkuiri dan investigasi sangat disarankan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kreativitas siswa. Sedangkan untuk menumbuhkan ketekutan dan obyektifitas siswa, para guru bisa membiasakan disiplin dan melaksanakan pembelajaran kontekstual.
Pembelajaran inkuiri memberi kesempatan yang lebih luas pada siswa untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang sampaikan guru secara mandiri. Komunikasi dengan guru berupa tanya jawab soal teknis pelaksanaan pembelaran, paparan pokok-pokok materi, dan metode penarikan kesimpulan. Guru sama sekali tidak boleh memberikan jawaban. Biarlah siswa sendiri yang mengambil kesimpulan dan merumuskan jawaban. Dengan begitu daya nalar siswa akan terlatih dan berkembang. Hal inilah yang akan menumbuhkan rasa ingin tahu dan kreativitas siswa.
Sementara, untuk menumbuhkan ketekunan, sekolah dapat mengadakan program pembiasaan. Program ini awalnya memang memaksa, tetapi lama kelamaan akan menjadi kebiasaan dan pada akhirnya menjadi karakter yang melekat pada diri siswa.
Selain itu, kedisiplinan juga bermanfaat untuk menumbuhkan penghargaan siswa pada waktu dan aturan di sekolah.
Bersikap obyektif adalah bersikap dengan berdasar pada realitas yang ada. Obyektifitas mendasarkan pada fakta-fakta riil yang ada, bukan hanya pada asumsi atau.anggapan pribadi. Untuk menumbuhkan sikap obyekti, guru dapat menggunakan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran ini membawa siswa pada obyek dan situasi nya, sehingga mereka dapat melihat secara langsung materi yang sedang dipelajari. Sebagai contoh guru bisa saja mengajak siswa ke kebun sekolah, mencabut sebuah tanaman, dan mempelajari bagian-bagian tumbuhan. Atau guru dapat mengajak siswa ke balai desa, untuk mempelajari struktur, tugas, dan wewenang aparatur desa. Dengan begitu siswa betul-betul akan melihat obyek pembelajaran yang nyata bahkan bisa merasakan situasi yang sesungguhnya.
Salah satu kompetensi yang dijadikan target pencapaian pendidikan Abad 21 adalah critical thingking. Kemampuan ini sangat diperlukan siswa dalam kehidupannya di masa mendatang. Dalam kehidupan yang dinamis dan selalu berkembang, kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan. Mengapa? Karena dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan distorsi, setiap kita harus bisa memastikan apakah sebuah informasi merupakan kebenaran atau hoax, apakah sebuah kebijakan yang diambil efektif atau tidak, atau apakah penyelesaian suatu masalah sudah tepat sasaran atau belum.
Menurut www.wabisabilearning.com definisi dari berpikir kritis sebagai sebuah pemikiran yang jelas, rasional, logis dan mandiri. Hal itu tentang meningkatkan pemikiran dengan cara menganalisis, menilai dan merekonstruksi. Pada saat menemui persoalan, seseorang yang telah memiliki critical thinking yang baik, tidak akan memutuskan sesuatu dengan gegabah. Ia akan mengumpulkan berbagai informasi dari sumber yang terpercaya dan relevan, membuat analisi, lalu memutuskan sesuatu berdasrkan analis rasioanl tersebut.
Seorang siswa yg memiliki critical thingking yang kuat, memiliki ciri-ciri seperti : memiliki rasa ingin tahu yang kuat, kreatif, tekun dan obyektif. Rasa ingin tahu dan kreatifitas dapat tumbuh dari cara belajar yang aktif dan inovatif. Pembelajaran dengan metode inkuiri dan investigasi sangat disarankan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kreativitas siswa. Sedangkan untuk menumbuhkan ketekutan dan obyektifitas siswa, para guru bisa membiasakan disiplin dan melaksanakan pembelajaran kontekstual.
Pembelajaran inkuiri memberi kesempatan yang lebih luas pada siswa untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang sampaikan guru secara mandiri. Komunikasi dengan guru berupa tanya jawab soal teknis pelaksanaan pembelaran, paparan pokok-pokok materi, dan metode penarikan kesimpulan. Guru sama sekali tidak boleh memberikan jawaban. Biarlah siswa sendiri yang mengambil kesimpulan dan merumuskan jawaban. Dengan begitu daya nalar siswa akan terlatih dan berkembang. Hal inilah yang akan menumbuhkan rasa ingin tahu dan kreativitas siswa.
Sementara, untuk menumbuhkan ketekunan, sekolah dapat mengadakan program pembiasaan. Program ini awalnya memang memaksa, tetapi lama kelamaan akan menjadi kebiasaan dan pada akhirnya menjadi karakter yang melekat pada diri siswa.
Selain itu, kedisiplinan juga bermanfaat untuk menumbuhkan penghargaan siswa pada waktu dan aturan di sekolah.
Bersikap obyektif adalah bersikap dengan berdasar pada realitas yang ada. Obyektifitas mendasarkan pada fakta-fakta riil yang ada, bukan hanya pada asumsi atau.anggapan pribadi. Untuk menumbuhkan sikap obyekti, guru dapat menggunakan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran ini membawa siswa pada obyek dan situasi nya, sehingga mereka dapat melihat secara langsung materi yang sedang dipelajari. Sebagai contoh guru bisa saja mengajak siswa ke kebun sekolah, mencabut sebuah tanaman, dan mempelajari bagian-bagian tumbuhan. Atau guru dapat mengajak siswa ke balai desa, untuk mempelajari struktur, tugas, dan wewenang aparatur desa. Dengan begitu siswa betul-betul akan melihat obyek pembelajaran yang nyata bahkan bisa merasakan situasi yang sesungguhnya.
