Membaca merupakan salah satu kegiatan literasi yang sangat bermanfaat bagi semua orang, termasuk di dalam siswa di sekolah. Guru selalu berupaya untuk meningkatkan minat baca siswa agar perkembangan pengetahuan siswa dapat bergerak dengan cepat. Jika buka adalah jendela ilmu, maka membaca adalah membukanya. Siswa dengan minat baca yang tinggi biasanya juga memilik prestasi belajar yang tinggi.
Namun tidak semua siswa memiliki minat membaca yang tinggi. Sebagian siswa lebih tertarik melihat gambar daripada membaca teks pelajaran yang ada di dalam buku siswa. Materi pelajaran yang kurang komunikatif serta beban tugas yang diberikan setelah membaca teks pelajaran, merupakan salah satu hal yang menjadi penyebabnya. Siswa tidak membaca karena suka, tetapi pada umumnya siswa membaca karena terpaksa.
Para guru di kelas seringkali melakukan pembelajaran dengan cara memerintahkan pada siswa untuk membaca satu teks tertentu. Kemudian siswa diharuskan memahami makna materi yang dibaca lalu ditugaskan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di halaman berikutnya. Apalagi jika guru lebih banyak bertumpu pada Lembar Kerja Siswa (LKS). "Beban" membaca siswa menjadi semakin banyak karena di setiap LKS juga akan muncul bacaan-bacaan. Apalagi dalam Kurikulum 2013 ini, sebagian besar lembar kerja siswa berisi bacaan-bacaan. Sehingga, membaca seringkali membuat para siswa merasa "neg".
Namun demikian, apakah keengganan membaca itu juga berlaku untuk buku-buku non pelajaran? Bagaimana dengan membaca buku-buku cerita atau majalah anak-anak yang berpadu dengan gambar yang menarik? Apakah pada buku-buku-buku itu anak-anak juga masih malas membacanya?
Dalam suatu kelas, dimana seorang guru dapat memotivasi siswa dalam membaca, yang terjadi adalah membaca itu menyenangkan. Awalnya sang guru memantik minat baca siswa dengan menyiapkan buku-buku cerita, baik itu tentang legenda, cerita para wali, cerita para nabi, bahkan cerita-cerita anak-anak kekinian. Selain menyiapkannya sendiri, dengan mengambil buku-buku bacaan itu dari perpustakaan, guru ini juga meminta muridnya untuk masing-masing siswa membawa dua buku ke sekolah.
Buku itu kemudian dikumpulkan di sebuah meja, yang dianggapnya sebagai pojok literasi. Disitu siswa boleh membaca buku apa saja, dan bukunya siapa saja. Sehingga anak-anak bisa memilih sendiri, buku bacaan dan majalah yang dibawa oleh temannya dari rumah. Dari kegiatan itu, membaca menjadi aktivitas yang menyenangkan. Anak tidak perlu lagi disuruh membaca, mereka sudah dengan senang hati membaca. Apalagi jika guru menunjukkan buku baru pada awal bulan. Mereka akan berebutu membaca buku baru itu.
Permasalahan baru muncul. Anak-anak tetap tidak suka membaca buku pelajaran. Mengerjakan tugas tetap menjadi beban berat bagi mereka. Membaca buku pelajaran tetap menjadi tugas yang tidak mereka sukai. Mereka hanya mau membaca buku-buku cerita, bukannya buku pelajaran yang menjadi tugas utama mereka.
Alhasil, sang guru menjadikan kegiatan "membaca buku cerita" sebagai "hadiah" bagi yang telah lebih dulu menyelesaikan tugasnya. Disini, anak-anak kemudian berkompetisi. Saling berlomba untuk menyelesaikan tugas dengan lebih dulu dan dengan jawaban yang minimal baik. Guru itu juga tidak membiarkan siswa mengerjakan tugasnya asal-asalan. Siswa mendapat hadiah membaca jika dapat menyelesaikan tugasnya lebih dulu dan dapat melampuai passing grade yang telah ditentukan. Jika tidak, hadiah membaca pun tidak mereka dapatkan.
Namun tidak semua siswa memiliki minat membaca yang tinggi. Sebagian siswa lebih tertarik melihat gambar daripada membaca teks pelajaran yang ada di dalam buku siswa. Materi pelajaran yang kurang komunikatif serta beban tugas yang diberikan setelah membaca teks pelajaran, merupakan salah satu hal yang menjadi penyebabnya. Siswa tidak membaca karena suka, tetapi pada umumnya siswa membaca karena terpaksa.
Para guru di kelas seringkali melakukan pembelajaran dengan cara memerintahkan pada siswa untuk membaca satu teks tertentu. Kemudian siswa diharuskan memahami makna materi yang dibaca lalu ditugaskan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di halaman berikutnya. Apalagi jika guru lebih banyak bertumpu pada Lembar Kerja Siswa (LKS). "Beban" membaca siswa menjadi semakin banyak karena di setiap LKS juga akan muncul bacaan-bacaan. Apalagi dalam Kurikulum 2013 ini, sebagian besar lembar kerja siswa berisi bacaan-bacaan. Sehingga, membaca seringkali membuat para siswa merasa "neg".
Namun demikian, apakah keengganan membaca itu juga berlaku untuk buku-buku non pelajaran? Bagaimana dengan membaca buku-buku cerita atau majalah anak-anak yang berpadu dengan gambar yang menarik? Apakah pada buku-buku-buku itu anak-anak juga masih malas membacanya?
Dalam suatu kelas, dimana seorang guru dapat memotivasi siswa dalam membaca, yang terjadi adalah membaca itu menyenangkan. Awalnya sang guru memantik minat baca siswa dengan menyiapkan buku-buku cerita, baik itu tentang legenda, cerita para wali, cerita para nabi, bahkan cerita-cerita anak-anak kekinian. Selain menyiapkannya sendiri, dengan mengambil buku-buku bacaan itu dari perpustakaan, guru ini juga meminta muridnya untuk masing-masing siswa membawa dua buku ke sekolah.
Buku itu kemudian dikumpulkan di sebuah meja, yang dianggapnya sebagai pojok literasi. Disitu siswa boleh membaca buku apa saja, dan bukunya siapa saja. Sehingga anak-anak bisa memilih sendiri, buku bacaan dan majalah yang dibawa oleh temannya dari rumah. Dari kegiatan itu, membaca menjadi aktivitas yang menyenangkan. Anak tidak perlu lagi disuruh membaca, mereka sudah dengan senang hati membaca. Apalagi jika guru menunjukkan buku baru pada awal bulan. Mereka akan berebutu membaca buku baru itu.
Permasalahan baru muncul. Anak-anak tetap tidak suka membaca buku pelajaran. Mengerjakan tugas tetap menjadi beban berat bagi mereka. Membaca buku pelajaran tetap menjadi tugas yang tidak mereka sukai. Mereka hanya mau membaca buku-buku cerita, bukannya buku pelajaran yang menjadi tugas utama mereka.
Alhasil, sang guru menjadikan kegiatan "membaca buku cerita" sebagai "hadiah" bagi yang telah lebih dulu menyelesaikan tugasnya. Disini, anak-anak kemudian berkompetisi. Saling berlomba untuk menyelesaikan tugas dengan lebih dulu dan dengan jawaban yang minimal baik. Guru itu juga tidak membiarkan siswa mengerjakan tugasnya asal-asalan. Siswa mendapat hadiah membaca jika dapat menyelesaikan tugasnya lebih dulu dan dapat melampuai passing grade yang telah ditentukan. Jika tidak, hadiah membaca pun tidak mereka dapatkan.

Sahe...sip
ReplyDeleteBagus pak
ReplyDeleteBaik ditiru idenya sang guru leterasi ini.
ReplyDeleteLanjutkan
ReplyDeleteIde brilian sang kepala sekolah
ReplyDelete