Manusia Baru Pasca Pandemi

Mohamad Ansori

Pandemi Covid 19 memaksa semua orang mengubah pola pikir, pola kerja, dan pola belajar. Mau tidak mau, kerja dan belajar daring kita lakukan demi menghindari kerumunan masa, sebagai implementasi work from home. Berbagai persoalan muncul, baik dalam konteks guru, siswa, maupun orang tua.

"Pola pikir kita berubah positif. Paling tidak dari pola pikir ke-aku-an, menjadi ke-kita-an", demikian kata Prof. M. Nuh, dalam Halal bi Halal Online PWLP Ma'arif  Jawa Timur, Rabu tanggal 3 Juni 2020. Semula, banyak dari kita, terutama yang hidup di kota-kota besar, hidup secara individualis. Kita tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi dengan tetangga kita. Kita tidak pernah tahu apakah tetangga kita sudah makan atau belum, sehat atau sakit, dan seterusnya. Yang jelas, banyak orang berpikir nafsi-nafsi, yang penting urusan pribadinya selesai, titik.


Pandemi ini mengajari kita untuk beralih pola pikir. Mau tidak mau, kita harus peduli dengan lingkungan kita. Karena, ketika salah satu dari anggota lingkungan terdampak C19, mau tidak mau semua anggota lingkungan akan menjadi "tertuduh" ketika berada di luar lingkungan. Beberap kasus di desa misalnya, hanya karena ulah seseorang atau satu kelompok kecil, satu desa terpaksa di lockdown oleh pemerintah. Alhasil, seluruh warga desa menjadi "orang yang diawasi" oleh orang luar desa.

Dalam konteks pendidikan, learning from home juga menyisakan masalah. Tidak semua guru siap dengan teknologi informasi yang dibutuhkan untuk pembelajaran daring. Demikian juga dengan orang tua dan siswa. Tidak semua orang tua "ikhlas" menggantikan peran guru mengajari anak-anaknya. Bagi sebagian orang, lebih mudah mencari uang dari pada mengajari anaknya mengerjakan tugas daring. Sehingga, protes pun mengalir pada guru. Tugas lagi, tugas lagi.

Sementara tipe orang tua lainnya menyambut baik pembelajaran daring. Orang tua dalam tipe ini lebih suka membantu dan mendampingi anaknya mengerjakan tugas daripada merelakan anaknya seharian main mobile legends atau nonton Youtube. Mereka tahu, bahwa teknologi informasi ini sangat bermanfaat bagi anak-anaknya, tapi mereka juga sadar ancaman yang lebih besar juga sedang menghantui anak-anak yang kecanduan online game yang menjadi semakin populer di masa pandemi ini.

Betapa tidak, bermain HP seharian, dengan model "rebahan", ternyata akan sangat berdampak pada kesehatan mata anak. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin anak-anak dengan mata normal, akan kehilangan kenormalan matanya pada saat nanti kembali ke sekolah. Belum lagi, dalam segi kejiwaan, permainan-permainan itu tentu akan sangat mempengaruhi jiwa anak nantinya.

Alhasil, butuh kesabaran, kreativitas, inovasi, dan kerjasama semua pihak. Guru misalnya, harus dengan sabar, memberikan tugas secara rutin dan tidak membebani siswa. Tidaklah tepat memberikan tugas yang sama, antara  belajar di sekolah dengan belajar mandiri di rumah. Orang tua demikian juga adanya, butuh kesabaran mendampingi anak dalam belajar dan mengerjakan tugas.

Selain itu, guru juga harus kreatif dan inovatif. Krativitas sangat diperlukan agar penugasan yang diberikan tidak monoton, membosankan, apalagi memberatkan siswa dan orang tua. Inovasi diperlukan, untuk memberikan sesuatu yang baru, sehingga pembelajaran menjadi sesuatu yang "menarik", bukan lagi menjadi sesuatu yang kaku dan membosankan. Apalagi, begitu banyak waktu untuk berkreasi dan berinovasi, sehingga tidak ada alasan lagi bagi guru untuk meningkatkan kualitas dirinya. Dengan begitu, ketika pandemi ini berakhir, akan muncul guru-guru yang baru yang lebih hebat, akan muncul siswa-siswa baru yang mandiri, dan ada orang-orang tua baru yang peduli.

Wallahu a'lam.