Salah satu murid di kelasku cengeng sekali. Sedikit-sedikit nangis, sebentar-sebentar ngambek. Ketika pensilnya hilang, langsung saja menangis tanpa mencarinya dulu. Ketika bukunya sobek, segera pecah suara tangis dari kedua bibirnya. Teman-temannya pun bandel. Melihat ada anak yang cengeng seperti itu tidak kemudian dijaga agar tidak menangis, justru "dijarak" agar nagis. Entah dijawil, digoda, bahkan beberapa kalai alat tulisnya "dihilangkan" teman-temannya. Baru setelah pecah tangis, teman-temannya menunjukkan dimana alat tulisnya itu berada. Sehingga, hari-hari di kelasku, seperti "tiada hari tanpa tangisnya".
Menurut Novita Joseph, yang dimuat dalam www.hellosehat.com, mengatakan: "Pada dasarnya cengeng bisa disebabkan karena beberapa hal umum. Salah satunya karena anak Anda memang memiliki perasaan yang sensitif atau pola asuh Anda orang tua terhadap anak memang berbeda dan kurang tepat. Bila Anda sering memanjakan anak, ia bisa tumbuh menjadi anak cengeng. Ini pun akan berdampak pada kegiatan sosialisasi anak dengan pergaulannya. Tak jarang juga ditemukan bahwa anak cengeng itu cenderung tidak percaya diri, malu, takut, dan merasa ragu dengan kemampuannya sendiri. Ini merupakan pekerjaan rumah bagi para orangtua untuk bisa mengatasi sikap anak yang cengeng."
Berdasarkan pendapat di atas, sumber utama penyebab anak cengeng adalah pola pengasuhan yang salah, yaitu terlalu memanjakan anak. Anak yang selalu dimanja akan memiliki kebiasaan dihargai, disayang-sayang, dilayani, dan seterusnya. Padahal dalam kehidupan nyata, anak harus bersaing melawan teman-temannya. Di kelas misalnya, anak harus bersaing secara akademis. Boleh jadi ia akan merasa pintar, tetapi di kelas puluhan teman lainnya juga tidak bodoh. Sehingga, ketika ia merasa paling pintar ketika di rumah, ia akan menghadapi kenyataan bahwa di sekolah banyak temannya yang juga pintar. Mau tidak mau, ia harus bersaing dengan temannya itu.
Sensifitas hati yang dimiliki anak cengeng akan berperang disini. Di sekolah, tentu saja, perhatian guru harus dibagi dengan sekian banyak temannya. Di rumah, ia mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya. Kalau pun harus berbagi, paling dengan beberapa orang kakak atau adiknya, dan itupun masih sangat cukup baginya. Apalagi, kalau kakaknya lebih besar darinya, maka justru ia akan mendapatkan tambahan kasih sayang dari sang kakak juga. Belum lagi, teman-temannya tentu akan memperlakukan sama dengan teman yang lain. Sangat mungkin, tak ada teman yang mau memanjakannya. Ya, karena mereka seusia. Dengan demikian, ada perlakuan yang kontradiktif antara anak di rumah dan di sekolah.
Apa yang dilakukan murid-muridku yang lain sudah pada track yang benar. Terhadap anak cengeng ini, murid-muridku yang lain memperlakukannya sama dengan teman lainnya. "Menggoadain" anak cengeng dimaksudkan untuk melatih anak itu agar tidak cengeng lagi. Si cengeng akan menjadi "terlatih" untuk tidak sangat sensitif terhadap kembiasaan kemanjaannya di rumah. Sebagai guru, seharusnya juga tidak terlalu reaktif terhadap tangisan anak cengeng. Dengan catatan, kalau godaan itu hanya terbatas pada hal-hal yang kecil dan tidak membahayakan. Sedangkan jika godaan itu berlebihan, tentu guru harus melakukan tindakan pencegahan.
Para guru kelas bawah sekolah dasar, akan menghadapi persoalan-persoalan seperti. Di kelas 1 sekolah dasar, para guru akan menghadapi siswa baru dengan "kegagapan" baru terhadap tugas dan pelajaran. Jika di taman kanak-kanak mereka hanya bermain dan bermain plus persentase belajar dan pengenalan materi yang hanya sedikit, di sekolah dasar anak-anak ini akan menghadapi situasi yang berbeda. Para guru kelas 1 sekolah dasar biasanya juga terpaksa berlaku agak seperti guru taman kanak-kanak. Hal ini dalam rangka memberikan kesempatan adaptasi anak-anak, agar tidak terlalu kaget dengan suasana pembelajaran di sekolah dasar.
Menghadapi anak cengeng ini, para guru dapat melakukan beberapa tips, antara lain : (1) memberikan pemahaman bahwa ia akan menemui sesuatu yang disukai dan tidak disukai, sehingga hal apa yang terjadi disekitarnya adalah hal yang wajar, dan anak harus dapat mengontrol emosinya, (2) guru juga tidak boleh terbawa emosi, ikut menangis dan merasakan "kesedihan" anak cengeng tersebut, (3) guru tidak boleh terlalu bereaksi berlebihan, (4) membantu meningkatkan sosialisasi anak, suruh lebih banyak bergabung dengan teman-temannya, atau bekerja secara kelompok, dan (5) ajari anak untuk meluapkan emosinya dengan sehat, seperti menyanyi, menggambar, dan berolahraga.
Anak-anak memang unik dengan segala tingkahnya
ReplyDelete