![]() |
| ilustrasi : kompas.com |
Dalam Islam, menanamkan akidah yang kuat kepada anak-anak, merupakan kewajiban orang tua yang paling mendasarkan. Al Qur’an menggambarkan betapa Nabi Ya’kub sangat getol menanyakan kepada anak-anaknya tentang hal ini. Ketika anak-anak mereka dewasa, bahkan ketika Nabi Ya’kub akan meninggal, beliau tetap menanyakan, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Dalam Surah Al Baqarah ayat 133 Allah Swt berfirman, yang artinya: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua dan guru, dalam menguatkan akidah anak, antara lain:
Pertama, adalah dengan menceritakan kisah-kisah para nabi dan sahabat-sahabatnya, auliya, ulama, dan orang-orang sholeh, yang menceritakan bagaimana perjuangan mereka untuk mempertahankan akidahnya. Betapa mereka rela disiksa, dihina, bahkan sampai harus mengorbankan nyawa mereka untuk mempertahankan akidah mereka.
Kedua, adalah dengan membawa mereka ke dalam lingkungan yang baik dan benar, untuk mengaktualisasikan akidah. Misalnya dengan cara mengajak anak-anak ke masjid atau mushola untuk sholat jamaah, mendatangi majelis-majelis ilmu, dan sebagainya.
Ketiga, adalah mendorong anak untuk belajar dan berguru pada orang yang benar, dengan sudut pandang yang tepat, dan sering berdiskusi dengan orang-orang sholeh.
Lantas bagaimana menggunakan sains untuk menguatkan pembelajaran akidah? Atau, bagaimana menghubungkan sain dengan agama? Bukankah sain berkaitan erat dengan fakta dan pengetahuan sedangkan akidah lebih banyak berkaitan dengan keyakinan?
Fakta membuktikan bahwa beberapa ilmuwan Barat seperti Jacques Yves Costeau, Maurice Bucaille, Prof William Brown, Fidelma O'leary, Leopold Werner Von Ehrenfels, Keith Moore, Masaru Emoto, dam Tegatat Tejasen masuk Islam gara-gara riset yang dilakukannya sesuai dengan firman Allah Swt dalam al Quran al Karim. Artinya, sain seharus bisa mendekatkan orang pada Islam, bukan menjauhkannya. Oleh karena itu, orang tua dan para guru seharusnya dapat menghubungkan sains dengan Islam, khususnya akidah.
Para guru sekolah dasar, bisa saja menghubungkan sains dengan akidah dengan mudahnya. Contohnya, ketika di kelas 4 anak-anak telah belajar sistem peredaran darah manusia, anak-anak dapat mengetahui betapa rumitnya sistem peredaran darah yang ada pada manusia. Pada saat yang sama, peradaran darah itu telah tertata secara sistemik dengan sendiri. Bahkan ribuan bahkan jutaan pembuluh darah yang saling berkaitan dan “bersliweran” di seluruh tubuh manusia, dapat berjalan dengan baik tanpa campur tangan manusia sendiri. Akhirnya, kita dapat menyimpulkan betapa hebatnya Allah Swt telah mengatur semuanya.
Atau, pada saat guru membicarakan simbiosis mutualisme antara manusia dengan tumbuh-tumbuhan. Pada siang hari, tumbuh-tumbuhan memerlukan CO2 dan mengeluarkan O2 dalam respirasinya. Sementara manusia dan hewan justru mengeluarkan CO2 dan membutuhkan O2 agar dapat bernafas. Sehingga, terjalin hubungan yang baik dan saling menguntungkan antara manusia dan hewan dengan tumbuh-tumbuhkan pada ekosistem yang secara alimiah telah disiapkan Allah Swt untuk kehidupan manusia.
Contoh lain adalah ketika guru kelas mengajak anak untuk praktek menanam. Biasanya para guru mengajak anak menyiapkan beberapa gelas plastik dan mengisinya dengan media tanam. Kemudian guru menyuruh anak-anak mengisinya dengan biji jagung atau kacang. Satu gelas diletakkan di tempat terbuka, satu gelas lagi ditempatkan di samping jendela, dan satunya lagi dimasukkan ke dalam almari atau kotak kayu yang gelap. Anak-anak diminta mengamati betapa terjadi perbedaan pertumbuhan dari masing-masing biji. Dari situ, guru dapat menghubungkan dengan akidah, yaitu dengan mengatakan betapa “sunnatullah” telah berlaku pada mereka. Yaitu dimana satu biji kecil dapat tumbuh menjadi tanaman jagung yang semakin tinggi, meskipun berada di tempat yang berbeda dan tentunya dengan kualitas pertumbuhan yang berbeda.
Berdasarkan contoh-contoh sederhana di atas, dapat disimpulkan bahwa para guru dengan pengetahuan dan akidah yang kuat, akan dapat dengan mudah menghubungkan peristiwa sain dengan akidah. Dalam artian, dengan kreativitas dan inovasi yang tinggi, serta dapat meletakkan sudut pandang yang tepat guru dapat menghubungkan sain dengan penguatan keyakinan akan eksistensi Allah Swt dan campur tangan-Nya dalam setiap bagian dari kehidupan kita. Sehingga, keyakinan anak pada Allah Swt akan semakin menguat.

Luar biasa...
ReplyDeleteNdak bisa koment...
Lha sampun koment ngono...haha...
Delete